PostHeaderIcon Selamat tinggal Karmic, selamat datang Natty….

Setelah lebih dari setengah tahun istiqomah dengan karmic (9.10), akhirnya sekitar 2 minggu yang lalu saya menggantikan karmic dengan Ubuntu 11.04 Natty Narwhal. Prosesnya dimulai dengan mendownload file ISO seukuran CD yang lalu saya ‘masukkan’ ke dalam flashdisk 1GB. Tapi ketika akan mencoba boot melalui flashdisk itu, muncul pesan error (maaf detil pesan errornya saya lupa…). Lalu atas saran dari mbah google, ada sebuah file di dalam flashdisk tadi yang perlu dimodifikasi. Ternyata setelah mengikuti saran tersebut, saya dapat menjalankan ubuntu 11.04 di Axioo TVW.

Ketika telah berhasil masuk desktop (dengan liveUSB tadi), ternyata resolusi layarnya hanya sampai 1024×768. Tapi niat yang kuat ternyata mendorong hati saya untuk tetap menginstall Natty. Akhirnya dengan tekad bulat, dimulailah proses instalasi Natty, sekaligus menghilangkan Karmic. Alhamdulillah prosesnya berjalan dengan lancar dan akhirnya dalam waktu sekitar setengah jam sudah terinstall Natty di Axioo saya.

Selanjutnya mulailah saya mencoba menginstal driver sis (karena vga saya dari sis) yang sebelumnya saya gunakan di Karmic. Sewaktu di install di Karmic, driver itu berjalan dengan sesuai harapan, sehingga resolusi layar dapat diatur hingga 1280×800.  Selain itu juga tidak didapati masalah ketika akan menjalankan file2 video. Tetapi ketika driver sis itu akan saya install di Natty, ternyata tidak bisa terinstall. Bahkan jika setelah mencoba menginstal driver itu lalu laptopnya di restart, maka akan hang pada posisi sebelum muncul halaman login. Sepertinya itu disebabkan karena adanya file xorg.conf di /etc/X11 yang ‘ditaruh’ ketika saya mencoba menginstal driver sis tadi. Lalu dengan melakukan boot melalui flashdisk dan bertindak sebagai root, maka file xorg.conf di /etc/X11 dapat saya hapus. Setelah dihapus, maka laptop dapat diboot lagi dengan normal, hingga sampai ke desktop, tetapi dengan tetap berresolusi 1024×768, alias gagal ‘menaikkan’ resolusi.

Setelah berusaha berhari-hari, bahkan sudah lewat 1 minggu, saya sempat pasrah dengan keadaan itu. Satu hal yang membuat saya ingin menggunakan Natty adalah karena sewaktu saya menggunakan Karmic, saya tidak dapat menginstall Maktabah Elkirtasse. Hal itu karena ada suatu package yang diperlukan oleh Maktabah Elkirtasse, tetapi dengan versi di atas yang sudah terinstall di Karmic. Saya tidak tahu bagaimana mengupgradenya, bahkan saya tidak tahu apakah sebenarnya bisa atau tidak melakukan upgrade seperti itu.

Ngobrol2 tentang Maktabah Elkirtasse, keberadaan program ini saya dapat kan infonya melalui mbah Google. Suatu ketika saya mencari info tentang padanan Maktabah Syamilah di linux, dan akhirnya didapatlah info tentang Maktabah Elkirtasse. Paragraf ini sekalian pemberitahuan bagi pengguna Maktabah Syamilah yang ingin beralih ke Linux, bahwa program Maktabah Elkirtasse dapat anda gunakan sebagai pengganti Maktabah Syamilah di windows. Dalam menginstal Maktabah Elkirtasse, anda cukup menginstall programnya saja, tanpa ‘melibatkan’ ebook2nya. Jadi proses instalasinya cukup ringan. Sementara yang saya dengar, kalau kita ingin menginstal Maktabah Syamilah, yang banyak beredar adalah program yang sudah termuat dalam DVD (entah berapa keping), dan kabarnya dibutuhkan ruang sekitar 15GB di harddisk untuk menginstall Maktabah Syamilah. Hal ini mungkin karena dalam proses penginstalan Maktabah Syamilah sudah disertai dengan penyalinan ebook2 dalam DVD ke harddisk. Sementara untuk Maktabah Elkirtasse di linux, ebook2nya harus kita download sendiri dari sumber2nya.

Kembali ke Natty….

Sekitar 3 hari yang lalu saya mendapat jawaban atas masalah resolusi layar dilaptop saya. Jawaban itu saya temukan di http://laptopny.us/ubuntu-tips/fix-vga-resolution-sis-671671-in-ubuntu-1104-natty-narwhal . Setelah saya mengikuti petunjuk yang diberikan, akhirnya jadi juga saya bisa menikmati resolusi 1280×800 dengan Natty di Axioo TVW saya, Alhamdulillah. Tetapi 2 hari kemudian baru saya ketahui bahwa file2 video tidak dapat saya jalankan lagi, dengan pesan error “failed to create image buffer…“. Bahkan terkadang jika dipaksakan untuk menjalankan file video, maka sistem akan langsung logout.

Sampai berita ini diturunkan, saya belum dapat jawaban atas masalah terakhir ini….Tolong yang tau jawabannya, kasih tau ya…..

PostHeaderIcon Mimpi buruk seorang kakek

Pengalaman ini terjadi pada masa kembali dari mudik lebaran “kemarin”. Hari itu aku beserta istri dan anakku berencana menumpang kereta dari suatu stasiun di wilayah jawa barat menuju Jogja. Pagi jam setengah sembilan kami telah siap di stasiun menanti kedatangan kereta yang akan kami tumpangi. Kereta itu berangkat dari jakarta dan akan tiba di stasiun tempat kami menanti sekitar jam 9.30. Barang bawaan kami sebenarnya tidak terlalu banyak tetapi cukup berat bagiku, karena semua aku yang membawanya. Istriku ku tugaskan untuk menggendong anakku.

Ketika sedang dalam penantian itu, terlintas pikiran yang membuat hatiku  sedikit tidak nyaman. Yaitu, sudah biasa bahwa jika aku membeli tiket di stasiun itu, sementara kereta pada awalnya berangkat dari Jakarta (sekitar 3 jam perjalanan menuju stasiun itu), maka kursi yang aku “beli” akan ditempati oleh penumpang lain yang ingin bersantai-santai, meluruskan kaki, dll, semenjak dari Jakarta. Selama ini, ketika kereta datang lalu aku naik dan mencari kursi yang aku “beli” itu, biasanya telah ada yang menempati. Tak jarang aku sedikit di buat kesal karena orang yang menempati kursi ku itu tidak mau pindah (ke kursi asal mereka), malah bahkan menyuruhku mencari kursi lain yang kosong. Tak pernah selama ini aku mau tawar menawar dengan mereka yang menempati kursi ku. Pasti selalu aku minta dengan tegas kepada mereka untuk mengosongkan kursi ku itu. Nah, dalam penantian itu aku terkadang berharap jangan sampai aku terlibat situasi seperti itu lagi. Yang jelas, aku menginginkan istri dan anakku mendapatkan kursi yang telah kami beli sehingga dapat menikmati perjalanan dengan nyaman.

Sekitar jam setengah sepuluh akhirnya kereta yang kami nanti datang juga. Pada tiket ku tertera bahwa kursi untuk kami adalah no 5A dan 5 B, dalam gerbong 6. Ketika kereta itu memasuki stasiun, aku mulai menghitung gerbong kereta dimulai dari gerbong yang berada tepat di belakang lokomotif. Lalu ketika hitungan ku sampai pada angka 6, maka gerbong itulah yang aku harus naiki. Lalu kami bergegas menaiki gerbong itu, karena kereta tersebut tidak lama berhenti di stasiun itu. Setelah masuk ke dalam gerbong, lalu aku mencari no kursi 5 A dan 5B, dan akhirnya ketemu juga kursi-kursi itu. Tapi seperti yang sudah-sudah, telah ada yang menempati dan hanya seorang kakek-kakek.

Aku : Pak, ini kursi saya bapak pindah saja.

Sang Kakek entah mendengar perkataan ku atau nggak, dia berkata

Kakek : Itu kursi yang disana kosong. Kamu tempati aja yang disana. Kan masih kosong

Aku: (Sudah mulai kesal) Nggak pak. Mendingan bapak sekarang pindah saja, ini saya mau nempati. Ini saya bawa anak kecil. (emosiku mulai naik)

Kakek: Ya saya nggak mau. Pokoknya saya ga mau pindah. Kamu tempati aja yang disana.

Sang Kakek juga keliatan kesal. Sepertinya dia juga siap melayani kemarahan aku.

Aku: Nggak pak, bapak aja yang pindah. Ini kursi saya. (Dalam hatiku, kalo bapak memang susah pindah, aku mau kok bopong bapak sampai ke kursi bapak yang sebenarnya. Yang penting istri dan anakku bisa duduk di kursi yang memang kami beli).

Kakek: nggak mau. saya ga mau pindah.(Muka sang Kakek sudah semakin terlihat emosi).

Lalu terdengar istri ku berkata

Istri :ini gerbong 5 bi…

Lalu aku tanya kepada orang yang duduk agak jauh dari posisi sang kakek itu (untuk mendapatkan jawaban obyektif) :

Aku :Mas ini gerbong berapa?

Yang aku tanya menjawab :Ini gerbong 5, itu di depan ada gerbong restorasi.

Rupanya ketika aku menghitung gerbong tadi, pada enam gerbong pertama ada satu gerbong restorasi yang tidak aku perhatikan. Jadi seharusnya gerbong 6 adalah gerbong ke tujuh.

Lalu aku bergegas menuju gerbong selanjutnya (yang merupakan gerbong 6 yang sebenarnya) dengan perasaan ga karuan. Malu, kasian sama sang Kakek, merasa bersalah, dan …… Sesampainya kami di kursi yang sebenarnya, sembari menata barang bawaan, aku tertawa menertawakan diriku sendiri yang telah marah-marah kepada sang Kakek, meminta ia untuk pindah, padahal itu bukan kursi ku.  Udah ngotot, salah pula……Huahahahahahahaha…….MALUUUUUUUUUUUU…………………………

Tapi sebenarnya aku merasa bersalah telah berlaku seperti itu pada sang Kakek. Maka ketika aku telah selesai menata barang bawaanku, aku mendatangi kakek itu lagi dan meminta maaf kepada sang Kakek karena telah berlaku tidak baik kepadanya. Memang sih terlihat sang Kakek masih kesal terhadap ku, tetapi seorang ibu (mungkin anak sang Kakek) yang duduk di depan sang Kakek membesarkan hatiku. Dia berkata:”Sudah mas, ga pa pa kok. ” Lalu aku pun meminta maaf kepada ibu itu, karena tadi dia juga menyaksikan adegan dialog antara aku dan sang Kakek. Untung ibu itu cukup berjiwa besar dan terlihat mau memaafkan aku. Hah setidaknya aku sedikit lega sekarang…..

Lalu aku kembali menuju istri dan anakku, dan masih sempat beberapa menit kami tertawa menertawakan ulah ku tadi…..HAHAHAAHAHA…….MALUUUUUUUU……………..

PostHeaderIcon Pengalaman baru dengan Windows 7

Akhirnya tiba saatnya bagiku untuk bercerita tentang pengalaman baru ku berkenalan dengan Windows 7. Pengalaman baru???? (emang selama ini kemana aja bung??) Hehehee…terus terang emang baru kali ini saya mencoba install Windows 7. Itupun karena sedang diminta membelikan netbook untuk sepupu (“membelikan” bukan berarti pakai uang ku lho….Aku cuma disuruh memilih netbook mana yang cocok untuk dia, terus menyerahkan uang dari sepupu ku itu kepada penjual…duh gitu aja pake harus diceritain ). Menurutku pengalaman  ini mungkin bisa bermanfaat bagi salah satu dari pembaca tulisan ini.

Awalnya aku  akan mencarikan netbook HP mini, karena aku suka dengan netbook itu ketika melihat punya temanku. Tapi semalam sebelum aku bergerak untuk membeli netbook itu, aku memang sudah mencari-cari info tentang netbook. Sekilas info yang kudapat adalah bahwa netbook asus Eee PC menduduki peringkat yang lebih “favorit” dibandingkan HP mini untuk kisaran harga yang sudah jadi patokan sepupuku. Sebenarnya aku dah pernah lihat dan mengoperasikan Asus Eee PC punya keponakanku. Tapi aku ketika itu tetap ingin memilihkan HP mini untuk sepupuku.

Ketika baru sampai di suatu toko komputer (yang jelas di kota jogja), aku meminta kepada pelayan toko itu untuk memperlihatkan HP mini, dia bilang sedang kosong. Kemudian dia menyarankan untuk membeli Asus Eee PC saja. Kemudian ketika aku tanyakan “spec”nya, dan dia jelaskan baik Asus Eee PC maupun HP mini. Akhirnya karena pertimbangan “spec” dan harga, maka aku pilih Asus Eee PC. Meskipun harganya lebih mahal sekitar 250ribuan, tapi masih dalam kisaran harga yang diinginkan sepupuku itu.

Nah, kemudian aku bertanya kepada toko itu (kira-kira kalimatnya seperti ini):

aku : “Kalau mau install windows 7 di netbook ini pakai flashdisk bisa ga?”

Teknisi : “Ga bisa mas, soalnya (flashdisknya) ga ke detect. Jadi (installnya) tetap harus pakai DVDROM (eksternal)”

aku : “Ooo, maksudnya flashdisknya ga ke detect di bios, meskipun dah disetting urutan bootingnya di bios?”

Teknisi : “iya”

Waw….aku kok seneng ya…(sedekit senyum dalam hati). Kok bisa?(Iya, dalam hati aku jg bergumam : “belum tau dia…xixixixi”).

Mugkin memang kebetulan,  malam sebelumnya aku mencoba menjalankan Ubuntu 10.04 liveUSB di laptop ku tetapi ketika sampai di desktop terjadi Hang. Lalu aku coba jalankan di netbook ponakanku (Asus Eee PC), tetapi yang terjadi malah tidak bisa booting lewat flashdisk itu. Permasalahannya waktu itu adalah tidak terdetectnya flashdisk itu oleh bios, meskipun prioritas booting sudah di”set” di bios. Lalu aku bertanya kepada mbah Google, dan dicarikan jawaban oleh mbah Google. Ada yang menyarankan untuk menekan tombol “Esc” sesaat setelah  netbook baru mulai dihidupkan. Dan ternyata dengan menekan tombol “Esc” itu, muncul pilihan akan boot dari mana. Pada pilihan itu tercantum juga flashdisk ku. Kemudian dengan memilih boot melalui flashdisk ku itu, maka netbook itu akan boot melalui flashdisk seperti yang aku inginkan.

Berbekal pengalaman itu, dan juga memang sengaja aku bawa flashdiskku ketika membeli netbook, maka aku langsung coba jalankan Ubuntu 10.04 liveUSB ku itu didepan teknisi toko itu. Dan hasilnya memang seperti yang aku harapkan; netbook Asus Eee PC yang akan dibeli itu dapat melakukan boot melalui flashdisk, dan itu aku tunjukkan kepada sang teknisi. Lalu karena aku ingin memastikan (maklum, aku belum pernah sekalipun menginstal windows 7), maka aku tanya kepada teknisi itu : “Ini kan dah bisa boot lewat flashdisk. Kalo flashdisknya aku isi windows 7, kira2 bisa sukses ga installnya?” Teknisi itu menjawab : ” ya….dicoba aja…” (dia menjawab tapi terlihat sepertinya merasa “kecolongan”; ini karena ke ge-er an juga sih kayanya). Akhirnya dengan penuh rasa optimis aku pilihkan netbook itu untuk keponakanku dan kubawa pulang (setelah dibayar tentunya).

Sesampainya di rumah, langkah pertamaku adalah mengcopy isi dvd windows 7 ke harddisk di laptopku. Tapi ketika proses mengcopy sedang mulai berjalan, tiba-tiba dvd rom ku hang dan sampai sekarang tidak bisa membaca cd ataupun dvd. Karena rumahku berjarak sekitar 15 km dari UGM, maka aku termasuk kalang kabut juga mencari tempat (teman, warnet ataupun rental komputer) yang punya dvd rom. Sampai-sampai, ketika di suatu warnet, aku bertanya apakah ada dvd romnya di warnet itu, operatornya malah mengira aku akan memutar film aneh-aneh…(Huh!!!) Mangkel, kesel dan dongkol juga sih, tapi aku ga boleh ngabisin energi ku untuk marah2. Lalu aku bergerak lagi dari satu warnet ke warnet lain, sempat juga mampir ke rental komputer. Sampai akhirnya aku datangi sebuah warnet; ketika ku tanya “ada dvd romnya?” Operatornya menjawab: “di komputer klien tidak ada, tapi disini (maksudnya, komputer di kasir) ada. Emang mau apa sih?” Lalu aku menjawab: “Ini, mau ngopi windows 7 dari dvd ini ke flashdisk ini ( dalam hatiku: nah, mestinya aku ditanya dulu seperti ini, jangan langsung main tuduh aja kaya operator di warnet yang tadi)”. Terus operatornya berkata : “Oh, sudah sini saya kopikan saja.” Lalu aku menyambut dengan senang hati tawaran itu. Sambil menunggu proses kopi itu selesai, kami mengobrol. Ternyata aku menyimpulkan bahwa operator tersebut merupakan kasir+teknisi+pemilik sekaligus. Ketika proses kopi telah berhasil, aku bertanya tentang berapa biayanya, ternyata dia tidak mau menerima bayaran atas jasanya itu. Ketika aku paksa pun, dia tetap tidak mau menerima bayaran. Akhirnya aku hanya bisa tersenyum, mengucapkan rasa terimakasih,  ada rasa ga enak, dan kagum juga sama bapak operator itu yang telah berbaik hati pada ku.

Kemudian aku pulang ke rumah, dan mulai mencoba cari software yang dapat membuat flashdiskku itu dapat menginstall windows 7. Karena ini pengalaman pertama, dan juga keterbatasan kecepatan donlot, maka aku baru bisa mendapatkan software yang tepat sehingga flashdisk 4 GB  siap untuk menginstal windows 7 pada sekitar jam 11.00 malam. Aku memulai urusan windows ini sekitar jam 2 siang. Wow….tapi karena merupakan tantangan, aku merasa senang saja mengerjakan itu. Melihat proses instalasi windows 7 yang sedang berjalan itu sungguh senaaaaang,….sekali hatiku.

Untuk berbagi pengalaman, software yang ku gunakan untuk membuat flashdiskku bisa bootable dan dapat digunakan untuk menginstal windows 7 diunduh dengan nama file : A_Bootable_USB_by_Vishal_Gupta.zip. Aku tidak mencatat alamat tautannya, tapi silahkan coba saja cari di GOOGLE nama file tersebut.  Sebagai catatan, yang aku lakukan adalah mengcopy seluruh isi dvd windows 7 ke flashdisk (itu karena aku minta tolong pada orang lain yang tidak aku kenal). Mungkin kalo aku bisa membuat file ISO langsung dari dvdnya itu, maka proses mempersiapkan flashdisk ku itu akan bisa lebih cepat.

Sekarang netbook sepupuku itu telah terpasang windows 7, dan akhirnya aku juga menginstal windows 7 pada laptop ku (AXIOO TVW, seri detilnya aku ga tau). Hasilnya di laptopku cukup memuaskanku tapi sayangnya audio nya kok ga jernih ya. Terkadang ada kondisi ketika menjalankan suatu file video atau audio, suaranya ada yang jelek, meskipun masih terbilang jelas secara keseluruhan. Sebenarnya, yang aku inginkan adalah menginstal UBUNTU 9.10 pada laptopku, tetapi karena sampai sekarang cd asli UBUNTU 9.10 ku belum ketemu, ya untuk sementara aku berkenalan aja dulu sama windows 7. Sebagai catatan lagi, UBUNTU 9.10 adalah linux yang paling memuaskanku ketika di instal di laptop AXIOO ku.

Hah..capek juga….Ya pokoknya pembaca yang sabar membaca tulisan itu semoga dapat mengambil beberapa hikmah dan manfaat.

PostHeaderIcon Sudah saya bilang…!!

Kalau sudah tau kolam yang itu dalam dan ga bisa berenang ya jangan nyebur ke situ…,pilih aja kolam yang airnya dangkal. Jangan orang lain disalahkan karena ngisi kolam yang dalam itu dengan air yang banyak…Ingat bung, kolam yang dalam memang untuk orang yang mahir berenang…!

Dari awal kolam itu memang sudah saya rancang untuk orang yang mahir berenang. Anda juga lihat sekeliling dong, kolam ini dibangun di atas lahan pusat pembinaan atlit profesional, bukan kolam untuk hiburan rakyat. Lagian juga kalau semua kolam di indonesia dibuat dangkal semua, maka tidak akan ada perenang-perenang juara dari indonesia! Mungkin anda memang atlit bulutangkis handal, tapi anda ternyata tidak bisa berenang sama sekali. Siapapun itu, atlit bulutangkis ataupun bukan atlit, jika tidak mahir berenang ya BELAJAR dulu sana di kolam yang dangkal.

Tapi yang aneh, sewaktu anda tenggelam kok masih bisa marah-marah pada saya? Apakah anda tidak sadar bahwa semakin anda banyak marah dalam keadaan tenggelam, maka semakin banyak anda menelan air? Bukankah itu tidak baik untuk “kesehatan”?

Maaf, untuk sementara yang bisa saya lakukan hanya mengangkat anda dari kolam itu dan memperingatkan untuk tidak berenang di kolam itu lagi sebelum anda mahir berenang. Tapi kalau kemudian anda ingin belajar bagaimana cara berenang, saya akan ajarkan secara senang hati. Saya ga mau ngajarin orang berenang, sementara dia berlagak bisa berenang dan malah marah-marah waktu saya katakan kesalahan-kesalahannya.

Sebenarnya salah siapa sih, untuk menilai kolam saya kok menghadirkan atlit bulutangkis? Kalau anda sudah terlanjur hadir, ya sadari posisi anda lah.

Saya lebih menghormati orang yang bisa menyadari bahwa kolam itu memang dalam, apalagi berkeinginan belajar agar bisa atau setidaknya tahu cara untuk berenang.

PostHeaderIcon Lagi, penyesuaian class ugmthesis lama untuk aturan penulisan thesis ugm 2009

Sudah baca aturan penulisan tesis/skripsi mipa ugm yang baru (maksudnya, yang dikeluarkan tahun 2009)? Kalau anda pengguna LaTeX dan menggunakan class ugmthesis yang lama buatan Dr. Pekik N, maka ada beberapa ketidaksesuaian dalam hal format keluaran dari class itu dengan aturan penulisan tesis fmipa ugm 2009. Di artikel ini saya ingin menyoroti bagian penomoran teorema, definisi, lemma, dll. Pada aturan yang baru, ditetapkan bahwa penomoran teorema, definisi, lemma dan sebangsanya harus dalam satu penomoran (duh, bingung nyebutnya). Maksudnya, misalkan setelah teorema 2.1  terdapat sebuah lemma sebelum teorema berikutnya, maka menurut aturan 2009 lemma itu harus diberi nomor 2.2 (menjadi lemma 2.2) dan teorema selanjutnya tadi harus diberi nomor 2.3 (menjadi teorema 2.3). Pada class ugmtesis yang lama, situasi ini akan memberikan nomor 2.2 pada teorema yang terletak setelah teorema 2.1. Sedangkan lemma yang terletak diantara kedua teorema itu akan diberi nomor tergantung pada nomor lemma sebelum lemma itu. Sehingga pada class ugmthesis yang lama, penomoran teorema, lemma, akibat, dan sebangsanya bersifat independen.

Lalu apakah bisa kita menyesuaikan class ugmthesis yang lama agar bisa patuh pada aturan 2009 itu? Ternyata kalau kita mau mencari tahu ya bisa dapat juga kok caranya, sederhana pula. Caranya,

Pertama perhatikan bahwa agar kita memiliki environment theorem yang bernama Teorema, Lemma, Aksioma, dan sebangsanya, pada bagian preamble dokumen tesis saya telah diberi “perintah” berikut ini :

\newtheorem{aksioma}{Aksioma}[section]
\newtheorem{definisi}{Definisi}[section]
\newtheorem{teorema}{Teorema}[section]
\newtheorem{proposisi}{Pernyataan}[section]
\newtheorem{lemma}{Lemma}[section]
\newtheorem{akibat}{Akibat}[section]
\newtheorem{catatan}{Catatan}[section]

Nah agar penomoran lemma, aksioma, definisi, dll menginduk pada teorema, maka “perintah” di atas perlu diubah menjadi seperti berikut ini

\newtheorem{aksioma}[teorema]{Aksioma}%[section]
\newtheorem{definisi}[teorema]{Definisi}%[section]
\newtheorem{teorema}{Teorema}[section]
\newtheorem{proposisi}[teorema]{Pernyataan}%[section]
\newtheorem{lemma}[teorema]{Lemma}%[section]
\newtheorem{akibat}[teorema]{Akibat}%[section]
\newtheorem{catatan}[teorema]{Catatan}%[section]

Maka jika anda pengguna class ugmthesis yang lama seperti saya,  dengan penyesuaian seperti itu maka penomoran lemma, aksioma, dan sebangsanya dalam tesis/skripsi kita akan sesuai dengan aturan 2009…Selamat mencoba….

PostHeaderIcon Landscape table di LaTeX

Ini contoh tabel Landscape yang dibuat di LaTeX. Bermanfaat untuk menampilkan tabel yang tidak cukup dalam format portrait sementara keseluruhan dokumen kita dalam format portrait.

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

“script” LaTeXnya menyusul ya…

PostHeaderIcon dari Aristotle

they fancied that the principles of mathematics are the principles of all things… these are the greatest form of the beauty – Aristotle

PostHeaderIcon Kutipan dari pendiri mekanika kuantum

If anyone says he can think about quantum problems without getting giddy, that only shows he has not understood the first thing about them – Max Planck.

In mathematics you don’t understand the things. You just get used to them – John von Neumann.

How wonderful we have met with a paradox, now we have some hope of making progress – Niels Bohr.

In science one tries to tell people, in such a way as to be understood by everyone, something that no one even knew before. But in poetry, it’s quite opposite – P. A. M. Dirac

If God made the world a perfect-mechanism, we need not to solve innumerable differential equations, but can use dice with fair success – Niels Bohr.

Evidence obtained under different experimental conditions cannot be comprehended within a single picture, but must be regarded as complementary – Niels Bohr.

God doesn’t play dice - A. Einstein

Every element of the physical reality must have a counterpart in the physical theory – A. Einstein

Quantum mechanics itself, whatever its interpretation, does not account for the transition from ‘possible to the actual’ – W. Heisenberg

PostHeaderIcon Kutipan dari P. R. Halmos

words more than numbers

To me the defInition of a group is far clearer and more important and more beautiful than the Cauchy integral formula.

to me the infinite differentiability of a once differentiable complex function is far superior in beauty and depth to the celebrated Campbell-Baker-Hausdorff …formula about non-commutative exponentiation.

—-P. R. Halmos—-

PostHeaderIcon Ini tanggung jawab siapa?

Beberapa hari yang lalu saya sempat kaget dengan apa yang saya lihat dan dengar. Kala itu saya sedang menggendong anak saya, mengajaknya berjalan keliling kampung disuatu wilayah yang bukan kota Bandung maupun Jakarta dan cukup jauh jaraknya dari kedua kota besar itu. Mengapa saya sebut dua kota itu? Nanti akan jelas maksud saya.

Saya, dan juga anak saya yang mungkin belum mengerti apa yang dilihatnya, melihat beberapa anak kecil sedang asik menguasai jalanan kampun sebagai tempat mereka bermain. Karena tidak terlalu paham bahasa mereka, maka butuh waktu untuk berpikir sehingga apa yang mereka ucapkan dapat saya pahami. Sebetulnya tidak ada maksud untuk mengerti apa pembicaraan mereka sebelumnya. Namun ketika terdengar kata “******” (nama hewan) dari seseorang anak laki-laki sebagai makian kepada dua anak perempuan (dengan ukuran tubuh yang lebih tinggi 15cm), saya menjadi kaget. Lalu dengan lebih mendengarkan dan mencermati apa yang sedang terjadi, akhirnya saya paham bahwa kedua pihak, yaitu dua anak perempuan versus (sekitar) 4 anak lelaki sedang saling memaki karena mereka berbeda dalam mengidolakan klub sepakbola indonesia. Yang perempuan mengidolakan persija sedang yang kelompok lainnya mengidolakan persib. Ketika makian sudah semakin intensif, dan adanya gangguan terhadap sepeda tumpangan kedua anak perempuan itu, maka kedua anak perempuan itu mulai melayani dengan mendekati kelompok lelaki itu dan mengajak mereka berduel. Mungkin karena merasa postur tubuh kedua perempuan itu lebih tinggi maka mereka berani untuk mengajak duel. Namun entah apa yang terjadi, sepertinya duel itu tidak sempat terjadi dan kedua perempuan itu mulai menjauh.

Sejenak kemudian saya mulai tersadar bahwa saya sedang membawa sang buah hati dan saya tidak ingin ia melihat dan mendengar hal seperti itu agar tidak ditirunya dikemudian hari. Maka saya tinggalkan keramaian anak2 itu. Saya sebut mereka anak-anak karena saya perkirakan mereka tidak akan berumur lebih dari anak kelas 6 SD. Mungkin mereka berumur sama tuanya dengan anak kelas 4 SD.

Kejadian itu terus terang memang mengagetkan saya karena dilakukan oleh anak-anak kecil yang mungkin belum mengerti tentang apa yang mereka bela itu. Tetapi karena mereka belum mengerti tentang apa yang mereka ributkan itu maka saya sebetulnya bisa memaklumi. Mungkin kalau kabupaten mereka memiliki klub sepakbola yang bertaraf nasional  kejadian seperti itu tidak akan terjadi karena mereka akan “sehati” dalam mendukung klub sepakbola. Namun jika budaya permusuhan antar pendukung klub sepakbola itu terus dilestarikan, maka bukan hal yang mustahil anak-anak itu pun akan melakukannya dengan anak-anak pendukung klub sepakbola lain. Ini semua tidak jauh-jauh dari contoh orang-orang dewasa yang sudah melakukannya.

Lalu bagaimana dengan orang dewasa yang sering “berperang” sesama bangsanya dalam rangka menjunjung tinggi kehormatan klub sepakbola idola mereka? Tentunya mereka tidak mau disamakan dengan anak-anak kecil itu, namun apapun pendapat mereka tetaplah mereka seperti anak kecil itu.

Seingat saya, ketika saya masih kecil, pernah diajarkan di sekolah bahwa olahraga adalah pemersatu bangsa.  Tapi kalau seperti sekarang yang terjadi, apakah ajaran itu adalah sekedar motto atau lebih tepatnya omong kosong belaka? Sepertinya iya. Lalu ini tanggung jawab siapa? Atau malah, apa perlu dipertanggungjawabkan?